95% pengguna ChatGPT di dunia, dalam periode Maret sampai Mei 2026, tetap buka Google di rentang waktu yang sama. Bukan sebagian kecil yang masih loyal ke Google, tapi hampir semua orang.
Angka ini keluar dari laporan Similarweb “2026 Generative AI Landscape” yang baru rilis akhir Juli 2026, dan jadi bahan perdebatan ramai di LinkedIn. Kalau kamu lagi mikir mau geser budget marketing besar-besaran ke “GEO” karena takut ketinggalan, atau sebaliknya masih nganggep AI search cuma hype yang bakal lewat, dua-duanya perlu baca angka di bawah ini dulu.
Kenapa Anggapan “Google Udah Ditinggalkan” Itu Keliru
Kalau kamu dengar cerita bahwa orang udah pindah dari Google ke ChatGPT, data Similarweb bilang sebaliknya. Dari 494 juta pengguna ChatGPT yang dipantau, 461 juta di antaranya tetap aktif pakai Google di periode yang sama. Orang nggak pindah, mereka cuma nambah satu tool baru ke kebiasaan lama.
Skalanya juga masih jomplang jauh. Search tradisional masih menarik sekitar 3,3 miliar unique visitor bulanan secara global, sementara seluruh kategori AI chatbot meski tumbuh 57% dalam setahun — baru di angka 655 juta. Search masih sekitar lima kali lebih besar dari seluruh industri AI chatbot digabung jadi satu.
Satu angka lagi yang penting: cuma 6,8% jawaban ChatGPT di AS yang menyertakan link ke sumber eksternal per Mei 2026. Ini memang naik lebih dari lima kali lipat dibanding setahun sebelumnya, tapi artinya masih ada sekitar 93 dari 100 jawaban ChatGPT yang nggak mengarahkan trafik ke mana pun. Kalau strategi kamu berasumsi AI search udah menggeser search tradisional, angka-angka ini bilang belum.
Kenapa Anggapan “AI Search Cuma Hype” Juga Keliru
Sekarang giliran kubu yang skeptis. Total kunjungan bulanan ke platform generative AI tercatat 9,5 miliar antara Juni 2025 dan Mei 2026, naik 70% dari tahun sebelumnya. Download aplikasinya di seluruh dunia naik 134%.
Yang lebih menarik: komposisi umur penggunanya berubah drastis. Dulu mayoritas pengguna AI generatif ada di bawah 34 tahun, sekarang setengah dari total penggunanya berusia 35 tahun ke atas. Ini pola yang biasanya muncul kalau sebuah teknologi udah keluar dari fase tren anak muda dan masuk ke adopsi mainstream.
Meta AI, misalnya, penggunanya melonjak dari sekitar 384 juta di akhir 2024 jadi 1,2 miliar di awal 2026 — lebih dari tiga kali lipat dalam waktu kurang dari dua tahun, dan itu terjadi karena AI-nya nempel di WhatsApp dan Instagram, bukan karena orang sengaja cari destinasi baru. Penetrasi iklan di ChatGPT juga naik cukup tajam dalam hitungan bulan. Kalau kamu masih anggap ini cuma mainan sementara, adopsinya udah nggak kelihatan seperti itu lagi.
Masalah yang Lebih Penting dari Perdebatan “AI vs Google”
Ini bagian yang menurutku paling gampang diabaikan tim marketing: halaman yang dikutip AI dan halaman yang benar-benar diklik itu dua hal yang berbeda.
Data dari laporan yang sama menunjukkan mayoritas URL yang dikutip ChatGPT adalah halaman-halaman spesifik yang letaknya cukup dalam di struktur situs halaman yang isinya jadi “bukti” buat jawaban AI. Tapi lebih dari separuh trafik referral yang dikirim AI justru mendarat di homepage, bukan di halaman yang dikutip tadi.
Artinya, kalau tim kamu cuma pantau “berapa kali brand kami dikutip AI”, kamu kehilangan gambaran soal apa yang sebenarnya terjadi setelah orang klik. Dua populasi ini nggak sama, dan kalau dicampur jadi satu metrik, kamu bisa salah baca performa AI search kamu sendiri entah kelihatan lebih bagus atau lebih buruk dari kenyataan.
Tiga Hal yang Perlu Kamu Cek di Reporting Minggu Ini
Kalau kamu pegang budget marketing dan masih bingung mau ambil sikap yang mana, ini tiga langkah yang lebih berguna daripada ikut-ikutan debat di LinkedIn:
Pisahkan metrik citation dari metrik konversi. Rate kutipan AI dan kedalaman folder halaman yang dikutip itu satu KPI dia ngukur seberapa AI percaya konten kamu. Trafik referral dan konversi dari klik itu KPI yang beda, ngukur apa yang beneran terjadi pas manusia klik. Jangan digabung jadi satu dashboard.
Jangan pukul rata “visibilitas AI” untuk semua kategori bisnis. Skor share of voice di AI search itu sangat spesifik per industri brand yang dominan di satu kategori bisa jauh tertinggal kalau dibandingkan brand lain di kategori yang sama. Cek dulu posisi kategori kamu sendiri sebelum menyimpulkan menang atau kalah.
Sesuaikan konten dengan karakter audiens tiap platform, bukan cuma ukuran platformnya. Pengguna ChatGPT, Claude, dan Gemini punya profil dan minat yang beda-beda. Konten yang “dioptimasi buat AI” tapi ditujukan ke semua platform sekaligus biasanya malah nggak ngena ke platform mana pun.
Jadi, Mana yang Bener?
Dua-duanya setengah bener, setengah salah. Ada pergeseran struktural yang nyata pertumbuhan trafik dan rate kutipan AI dalam setahun terakhir bukan angka kecil. Tapi Google juga masih jauh dari kata ditinggalkan, dan sebagian besar kepanikan industri soal AI search berjalan lebih cepat dari angka trafik yang sebenarnya.
Yang lebih penting dari milih kubu adalah disiplin ngukur yang benar: pisahkan citation dari klik, cek posisi kategori kamu sendiri, dan bikin konten yang sesuai audiens tiap platform. Itu kerjaan yang lebih membosankan daripada ikut ramai di komentar LinkedIn, tapi itu yang beneran nentuin budget kamu dipakai buat hal yang tepat atau nggak.
Ditulis oleh Harist Nazili — Sales & Business Development, Gwenchana Digital Solusindo Terhubung di LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/harist-nazili/
Sumber data: Laporan Similarweb “2026 Generative AI Landscape: The Evolution of AI Search”, sebagaimana dibahas oleh Greg Jarboe dalam artikel Search Engine Journal, Juli 2026.