Orang Sudah Tidak Googling, Mereka Nanya AI dan Itu Alasan SEO Kamu Harus Lebih Serius

Written by:
Picture of Harist
Harist
Harist Nazili leads Sales and Business Development at Gwenchana Digital Solusindo, a Jakarta-based digital marketing agency. Beyond closing partnerships, he writes on SEO, GEO, and digital strategy — translating real client conversations into practical, no-fluff insights for businesses navigating the AI search era.

Table of Contents

Gwenchana pernah pegang klien di sektor kesehatan dengan pendekatan konten yang tidak biasa. Kami sengaja menggali dari jurnal ilmiah dan referensi akademik yang memang tidak terindeks Google secara mudah. Bukan buat pamer, tapi karena kami yakin itulah yang audiens mereka butuhkan: jawaban yang benar, bukan jawaban yang populer.

Di awal, trafik organiknya biasa saja. Tidak ada lonjakan yang dramatis. Tapi kemudian sesuatu terjadi. Website klien itu mulai muncul di layout jawaban AI setiap kali pengguna bertanya soal keluhan kesehatan yang relevan. ChatGPT mengutipnya. Google AI Overview menampilkannya. Leads mulai masuk dari sumber yang bahkan tidak bisa kami track lewat analytics biasa.

Itu momen ketika aku sadar: permainan SEO di era AI sudah berubah total, dan brand yang tidak sadar itu yang paling dirugikan.

Orang Memang Tidak Googling Seperti Dulu

Tren zero-click search terus naik. Semakin banyak pencarian yang berakhir langsung di halaman Google tanpa pengguna sempat mengklik satu pun tautan, karena AI Overview sudah menjawab kebutuhannya di sana. Di sisi lain, platform seperti ChatGPT, Perplexity, dan Gemini kini menjadi “search engine pertama” bagi jutaan orang sebelum mereka bahkan membuka browser.

Tapi ada fakta yang jarang disebut: berdasarkan studi Semrush terhadap lebih dari 10 juta keyword, halaman yang dikutip dalam AI Overview justru mendapat CTR 35% lebih tinggi dibanding yang tidak dikutip, menurut Semrush AI Overviews Study, 2025.

Artinya trafik tidak menghilang. Ia berpindah, dan brand yang punya konten layak dikutip justru menang lebih besar dari sebelumnya. Yang berubah bukan keinginan orang untuk mencari informasi. Yang berubah adalah di mana dan bagaimana mereka mencarinya.

AI Butuh Sumber, dan Sumber Itu Bisa Brand Kamu

Ini yang sering salah dipahami: AI generatif tidak menciptakan informasi dari udara kosong. ChatGPT, Perplexity, Google Gemini, semuanya mengambil referensi dari konten yang sudah ada di internet. Konten yang terstruktur. Konten yang kredibel. Konten yang secara teknis mudah dibaca mesin.

Klien kesehatan tadi yang paling bisa menggambarkan ini. Kontennya bukan yang paling viral. Bukan yang paling banyak dibagikan di medsos. Tapi karena kami membangun konten dengan standar yang benar, riset mendalam, struktur yang rapi, informasi yang tidak sekadar merangkum ulang artikel lain, AI menilainya layak dikutip.

Inilah yang sekarang disebut GEO: Generative Engine Optimization. Sederhananya, ini adalah evolusi dari SEO yang fokus pada satu pertanyaan baru: bukan hanya bagaimana agar muncul di Google, tapi bagaimana agar dikutip oleh AI saat audiens bertanya sesuatu yang relevan dengan bisnis kamu.

SEO membangun fondasi teknisnya. GEO memastikan konten itu layak direkomendasikan mesin cerdas. Dan keduanya tidak bisa dipisahkan, karena GEO tidak akan berdiri tanpa SEO yang sehat di bawahnya.

Yang Berubah Bukan Fungsinya, Tapi Standarnya

SEO lama bisa dimenangkan dengan volume: banyak artikel, banyak keyword, banyak backlink dari mana saja. Cara itu sudah tidak bekerja.

SEO sekarang menuntut standar yang lebih tinggi, khususnya buat brand:

Topical authority, bukan sekadar artikel lepas. Google dan AI sama-sama menilai apakah sebuah website punya kedalaman nyata di topik tertentu, atau hanya menulis tentang banyak hal secara dangkal.

E-E-A-T yang bisa dibuktikan. Singkatnya: Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness. AI tidak bisa dikibuli dengan kalimat yang terdengar pintar, ia mengenali pola konten yang punya substansi nyata versus yang hanya parafrase artikel lain.

Information Gain. Konsep yang makin serius di algoritma Google terbaru. Konten yang hanya merangkum ulang apa yang sudah ada, termasuk konten buatan AI, akan turun peringkatnya. Yang naik adalah konten yang membawa perspektif, data, atau pengalaman baru yang tidak dimiliki sumber lain.

Bagi brand, ini artinya konten yang dibuat asal-asalan, entah ditulis manusia malas atau AI tanpa editorial serius, justru memperburuk posisi. Bukan memperbaikinya.

Kapan Brand Bisa Skip SEO?

Aku akan jujur di sini, karena artikel yang tidak jujur tidak ada gunanya.

Kalau brand kamu sedang butuh awareness cepat dalam tiga bulan, SEO bukan jawabannya. Itu ranah paid ads dan konten sosmed yang dirancang untuk viral.

Tapi kalau brand kamu ingin jadi referensi di industri, yang namanya disebut ketika orang bertanya ke AI soal masalah yang relevan dengan bisnis kamu, maka SEO adalah satu-satunya channel yang bekerja secara compounding. Makin lama dibangun, makin besar hasilnya, dan makin sulit disalip kompetitor.

Klien kesehatan tadi tidak bisa disalip dalam semalam oleh siapapun, karena otoritas yang mereka bangun bukan dari trik teknis, tapi dari konten yang benar-benar menjawab kebutuhan audiens secara mendalam. Itu yang membuat AI terus mengutipnya sampai sekarang.

Bukan Soal Apakah Perlu, Tapi Soal Mau Dikutip atau Tidak

Pertanyaan “apakah brand perlu SEO di era AI?” sebenarnya adalah pertanyaan yang salah.

Pertanyaan yang lebih tepat: seberapa serius brand kamu mau diposisikan sebagai sumber terpercaya di era di mana AI yang memutuskan siapa yang layak disebut?

Karena saat audiens kamu mengetik pertanyaan ke ChatGPT atau Perplexity, dan AI menjawab dengan menyebut nama brand lain sebagai referensi, itu bukan kekalahan di Google. Itu kekalahan di kepala calon pelanggan kamu.

SEO, dengan standar barunya, adalah caramu bersaing di sana.

Share this:
Related Blogs

B2B marketing attribution is the process of tracking which touchpoints (ads, content, events, conversations) contribute...

B2B Instagram ads work — but only for specific ICP types and funnel stages. The...

A B2B video ad works when the first frame is about the buyer’s problem, not...